Bertemu doi bukanlah akhir segalanya
Halo kalian yang buka tulisan ini.
Gue mau bahas tentang memantaskan diri untuk menikah nih terinspirasi dari suatu forum diskusi di WA yang pembicaranya ka Atika Cahya, disitu ka Atika membahas tentang Seni Memantaskan Diri, menarik menurut gue dan relate untuk gue jadi yauds gue daftar dan ikut diskusinya.
Setelah ikut diskusinya ternyata diskusi ini menambah ketenangan gue dengan pertanyaan "kapan nikah?" "kapan jodohnya dateng?" entah dari orang lain maupun dari diri gue sendiri. Ternyata teorinya mudah ya untuk mengatakan "yaudah sekarang waktunya memantaskan diri dulu sebelum waktunya tiba" tapi yang sebenarnya terjadi adalah bukannya sibuk "memantaskan diri" tapi sibuk bertanya "siapa jodoh ku?" "kapan nikah".
Sebenarnya harus kaya gimana sih kita dalam memantaskan diri?
Diawali oleh ka Atika dengan kalimat...
"Kita gak perlu laporan ke seseorang yang sudah kita targetkan untuk memantaskan diri" hmm oke jadi gausah sesumbar ya oke. Eh ditambah lagi
"Kita pantaskan diri dihadapan Allah bukan dihadapan manusia. Bila berubah demi manusia maka sia-sia dihadapan Allah"
plak! kegampar bun hati gue. Gue tu punya semangat dalam belajar masak adalah buat suami gue kelak wkwk pantesan belajarnya angot-angotan, karena masih burem banget juga jodohnya. Dan kalimat ini membuat gue meluruskan lagi niat gue dalam hal apapun.
Kemudian ka Atika membuat dua pilihan untuk kita
1. Galau memikirkan masa depan atau
2. Mengambil kesempatan ini (belum nikah) untuk bertumbuh
Pastinya milih yang kedua kan ya, karena kalo sibuk memikirkan sesuatu yang belum saatnya tiba capek hati dan pikiran maka nikmati dan maksimalkan fase yang sedang kita hadapi.
Fase jadi anak, jadi pengajar, jadi mahasiswa, jadi adik, jadi tante, jadi apa aja deh yang lagi kalian hadapi harus dinikmati dan dimaksimalkan perannya.
Kenapa?
karena dalam pernikahan itu kolaborasi, butuh 2 orang yang sama-sama kuat bukan cuma salah satu. dan kalo kita menginginkan pasangan terbaik maka kita sendiri harus mengusahan menjadi yang terbaik. inget ya niat untuk jadi yang terbaik gak seceper biar dapet doi yang terbaik tetapi lebih dari itu, kita diciptakan di dunia bukan untuk main-main dan bukan untuk nikah tok, tetapi ada amanah dan tanggung jawab didalamnya. Kalo kita ditakdirkan wafat dalam keadaan belum nikah gimana? ya kan gapapa, gak akan disiksa sama Allah karena hal itu. Allah mungkin malah memuliakan kita karena selama hidup kita gak menyia-nyiakan waktu untuk menggalau tetapi malah memaksimalkan diri.
Bagaimana memaksimalkan diri saat masa penantian?
1. Produktif belajar,
2. Produktif berkarya, dan
3. Produktif berdaya.
Oke sebenarnya memaksimalkan diri ini bukan berlaku pas masa penantian saja tetapi pas kita sudah menikah, bahkan punya anak pun kita harus tetapi memaksimalkan diri ini.
Belajar-------Berkarya---------Berdaya
Mempelajari banyak hal ini fokusnya untuk diri kita sendiri, memberi bekal untuk diri sendiri. Belajar apapun, dimanapun, cari sebanyak-banyaknya insight agar wawasan kita luas termasuk ilmu tentang pernikahan dan parenting.
Kalau berkarya sudah mulai membagikan bekal kita untuk orang lain. Fokusnya bukan untuk diri kita tetapi sudah untuk orang lain yang intinya bermanfaat untuk orang lain. Gak usah mikir yang jauh-jauh, hal kecil seperti kita menyapu, mencuci piring di rumah saja sudah berkarya karena sudah bisa bermanfaat untuk orang tua. Hidup ini bukan melulu tentang diri kita sja dan jangan merasa lelah saat berkarya dan seperti tidak ada feedback dari orang yang sudah kita beri manfaat karena Allah sendirilah yang akan mudahkan urusan dan kebutuhan kita bila kita memudahkan urusan orang lain.
Berdaya ini bukan hanya perihal bisa menghasilkan uang, tetapi berdaya secara mental, ilmu, dan finansial. dan kunci dalam berdaya adalah kita harus menggantungkan diri ke Yang Maha Kuat.
layaknya kita dalam menanam, menanam benih adalah produktif belajarnya ketika benih itu mulai tumbuh merupakan produktif berkarya kemudian saat tumbuhannya sudah berbuah maka itulah produktif berdayanya.
Kalau kita fokus dalam tiga hal ini maka kegalauan dalam memikirkan yang belum tiba akan sirna.
Untuk teman-teman yang membaca ingatlah bahwa pernikahan adalah garis START bukan garis FINISH. Jangan fokus pada masalah tetapi fokus pada solulsi serta selalu yakini janji Allah.
Terima kasih sudah mau membaca :)
Komentar
Posting Komentar